Dilema Deepfake: Menemukan Media Buatan AI di Media Massa

7

Semakin sulit memercayai mata Anda.

Kecerdasan buatan di media massa bukan lagi sebuah konsep yang futuristik. Ada disini. Dan itu berantakan.

Contohnya deepfake. Ini adalah video atau klip audio yang dibuat oleh AI yang menggambarkan peristiwa yang tidak pernah terjadi. Orang mungkin terlihat seperti mengatakan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan. Mereka mungkin terlihat seperti berada di tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Teknologi ini cukup maju untuk menipu sebagian besar pengamat biasa.

Hal ini menciptakan tantangan besar. Konsumen media massa kini harus membedakan konten nyata dari konten yang dihasilkan AI. Ini bukan hanya tentang menemukan filter yang buruk. Ini tentang mengidentifikasi misinformasi dan disinformasi.

Mengapa ini penting? Karena kepercayaan sedang terkikis. Ketika Anda tidak bisa mengatakan apa yang nyata, Anda berhenti mempercayai apa pun.

“Kecerdasan buatan di media massa mencakup kehadiran konten seperti deepfake, yang dapat menggambarkan peristiwa yang tidak ada.”

Ini adalah salah satu dari banyak kesulitan. Ada juga bot, bias algoritmik, dan feed yang dikurasi. Tapi deepfake itu unik. Mereka sangat meniru kenyataan sehingga mengabaikan skeptisisme alami kita.

Bagaimana Anda bisa mengenalinya? Carilah ketidakkonsistenan. Gerakan yang salah. Pencahayaan yang tidak alami. Ekspresi wajah yang aneh. Namun petunjuk tersebut semakin sulit ditemukan seiring dengan kemajuan teknologi.

Bebannya ada pada konsumen. Literasi media kini menjadi keterampilan bertahan hidup. Anda harus mempertanyakan apa yang Anda lihat. Anda harus memeriksa sumbernya. Anda harus skeptis.

Ini melelahkan. Tapi itu perlu.

Batas antara kebenaran dan kepalsuan semakin kabur. Dan hal ini tidak akan menjadi lebih jelas dalam waktu dekat.