Vatikan Menawarkan Terjemahan Massal Bertenaga AI dalam 60 Bahasa

18

Vatikan meluncurkan sistem penerjemahan kecerdasan buatan (AI) baru untuk menyediakan interpretasi Misa secara real-time dalam 60 bahasa di Basilika Santo Petrus. Layanan tersebut, yang diluncurkan minggu depan sebagai bagian dari perayaan Seratus Tahun Keempat gereja tersebut (2026), bertujuan untuk membuat layanan keagamaan dapat diakses oleh khalayak global yang lebih luas.

Mengatasi Hambatan Bahasa

Terjemahan yang dibantu AI akan dikirimkan melalui sistem kode QR. Peserta dapat memindai kode saat masuk ke Basilika Santo Petrus, mendapatkan akses langsung ke terjemahan audio dan teks melalui ponsel pintar dan browser web mereka. Tidak diperlukan pengunduhan aplikasi, menyederhanakan pengalaman bagi pengunjung.

Teknologi di Balik Penerjemahan

Vatikan bermitra dengan Translated, sebuah perusahaan solusi bahasa, dan Carnegie-AI LLC untuk mengembangkan layanan tersebut. Inti dari sistem ini adalah “Lara”, sebuah AI yang dikembangkan bekerja sama dengan Profesor Alexander Waibel, tokoh terkemuka dalam penerjemahan ucapan AI. Waibel menekankan bahwa proyek ini menunjukkan kemampuan AI untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dalam lingkungan budaya yang signifikan.

Mengatasi Masalah Akurasi AI

Pengembang mengakui bahwa semua sistem terjemahan mesin mempunyai tingkat kesalahan tertentu. Namun, CEO Translated menyatakan bahwa Lara mewakili peningkatan substansial dalam akurasi, yang dirancang untuk meminimalkan “halusinasi” (kesalahan yang disebabkan oleh AI) dengan memanfaatkan pemahaman kontekstual yang lebih besar. Sistem ini mengutamakan presisi dibandingkan respons yang terlalu menyenangkan.

Menyeimbangkan Inovasi dengan Kepedulian Etis

Langkah ini dilakukan di tengah perdebatan yang lebih luas mengenai peran AI dalam masyarakat. Paus Leo XIV baru-baru ini memperingatkan terhadap kemajuan AI yang tidak terkendali, menyoroti potensi ancaman terhadap martabat manusia, keadilan, dan hak-hak buruh. Peluncuran ini menunjukkan bahwa Vatikan melihat potensi manfaat dalam penggunaan AI untuk inklusi keagamaan, namun tetap menyadari risiko teknologi tersebut.

Mengapa Ini Penting

Penerapan terjemahan AI oleh Vatikan bukan sekadar pembaruan teknologi. Hal ini mencerminkan tren yang berkembang di berbagai institusi yang menggunakan AI untuk mengatasi hambatan logistik dan budaya. Gereja sedang beradaptasi dengan dunia di mana masyarakat global menuntut aksesibilitas. Kasus penggunaan di Basilika Santo Petrus juga menjadi preseden tentang bagaimana institusi serupa dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan inklusivitas di masa depan.

Keputusan Vatikan untuk memprioritaskan penerjemahan yang dibantu AI menandakan kesediaan untuk terlibat dengan teknologi baru guna mendorong pemahaman universal dalam jemaatnya.