Musik Natal yang Dihasilkan AI: Eksperimen yang Menyenangkan, Namun Seniman Manusia Tetap Berkuasa

15

Musim liburan identik dengan lagu-lagu klasik – “All I Want for Christmas Is You” karya Mariah Carey atau “White Christmas” karya Frank Sinatra langsung membangkitkan keceriaan pesta. Meskipun lagu-lagu ini terdengar nyaman karena keakrabannya, gagasan tentang soundtrack Natal yang dibuat khusus kini dapat dijangkau berkat kecerdasan buatan. Tapi apakah musik AI sebanding dengan musik aslinya?

Kebangkitan Alat Musik AI

Sama seperti AI yang mengubah bungkus kado, desain kartu, dan bahkan resep sisa, kini AI dapat menghasilkan musik orisinal. Adobe Firefly, diluncurkan pada Maret 2023, menawarkan alat penghasil soundtrack yang mampu membuat trek instrumental berkualitas studio berlisensi penuh. Layanan ini tersedia melalui tingkat langganan Adobe (mulai dari $10/bulan) tetapi juga menyediakan akses gratis terbatas.

Prosesnya mudah: pengguna dapat mengunggah video agar AI menyarankan suasana, gaya, atau tujuan, atau memulai dari awal menggunakan tag yang telah ditetapkan sebelumnya. Energi, tempo, dan durasi dapat disesuaikan, memungkinkan komposisi yang disesuaikan. Kuncinya adalah pertama-tama mempertimbangkan di mana musik akan diputar, untuk siapa musik tersebut, dan perasaan apa yang ingin Anda bangkitkan.

Menguji Air

Untuk menguji Firefly, penulis membuat trek berdasarkan cuplikan hari bersalju baru-baru ini. Memilih “Damai”, “Sinematik”, dan “Pribadi” sebagai parameter, AI menghasilkan empat opsi, meskipun tidak ada yang terasa seperti Natal. Hasilnya lebih cocok untuk musik latar dalam video media sosial daripada acara bernyanyi bersama yang meriah.

Eksperimen lebih lanjut dengan perintah khusus—termasuk permintaan untuk lagu bergaya Mariah Carey—menghasilkan hasil yang lumayan namun umum. Meskipun AI dapat menghasilkan musik, AI tidak memiliki kedalaman emosional dan resonansi budaya seperti artis-artis mapan.

Putusan: Sentuhan Manusia Masih Penting

Meskipun merupakan hal yang baru, musik Natal yang dihasilkan AI masih kalah jika dibandingkan dengan musik klasik yang tak lekang oleh waktu. Penulis menyimpulkan bahwa meskipun menyenangkan untuk mengatakan Anda membuat sebuah lagu, produk akhirnya kemungkinan besar tidak akan menggantikan playlist atau pertunjukan live yang dikurasi. Elemen kemanusiaan—emosi, kesenian, dan dampak budaya—masih tak tergantikan.

Pada akhirnya, tetap bersama artis manusia akan menghasilkan soundtrack liburan yang jauh lebih memuaskan dan penuh semangat.