Bangkitnya Anjing Pembantu Palsu: Masalah yang Berkembang dalam Perjalanan Udara

14

Jumlah anjing yang bepergian dengan pesawat dengan menyamar sebagai hewan penolong meningkat, menimbulkan pertanyaan tentang aksesibilitas, pelecehan, dan integritas sistem. Tempat yang dulunya merupakan akomodasi yang diperlukan bagi penyandang disabilitas kini semakin dieksploitasi sebagai celah bagi pemilik hewan peliharaan yang ingin menghindari biaya penerbangan dan pembatasan.

Masalah intinya bukan hanya tentang orang-orang yang ingin membawa anjingnya ke dalam pesawat. Ini tentang potensi bahaya yang disebabkan oleh hewan tidak terlatih yang mengganggu anjing penolong asli, terkikisnya kepercayaan terhadap akomodasi aksesibilitas, dan kesulitan mengatur ruang ini tanpa menciptakan hambatan tambahan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Masalah dengan “Anjing Pembantu”

Maskapai penerbangan dan penumpang sama-sama memperhatikan adanya peningkatan tajam pada anjing yang diberi label sebagai hewan penolong yang menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan pelatihan yang tepat. Mulai dari menggonggong dan mondar-mandir di bandara hingga perilaku yang umumnya mengganggu, para penipu ini meremehkan tujuan dari hewan pemandu yang sah. Masalahnya bukan sekedar ketidaknyamanan; hal ini dapat secara aktif menghambat efektivitas anjing terlatih dalam membantu penyandang disabilitas.

Sistem saat ini sangat bergantung pada sertifikasi mandiri, yang memungkinkan individu untuk mengklaim hewan peliharaan mereka sebagai hewan penolong dengan pengawasan minimal. Meskipun peraturan federal sudah ada, penegakan hukum masih lemah dan celah masih ada. Departemen Perhubungan telah berupaya untuk memperketat peraturan, khususnya mengenai hewan pendukung emosional, namun pelatihan swasta memungkinkan individu untuk menunjuk anjing mereka sebagai hewan penolong hanya dengan mengklaim bahwa mereka memitigasi kecacatan.

Kurangnya standardisasi menciptakan inkonsistensi. Beberapa anjing menjalani program pelatihan yang ketat di organisasi seperti Canine Companions, di mana mereka belajar melakukan tugas-tugas kompleks seperti membuka pintu, merespons alarm, dan membantu mobilitas. Yang lainnya dibawa ke pesawat tanpa verifikasi, sehingga menciptakan lingkungan yang kacau dan tidak adil.

Mengapa Orang Mencurangi Sistem

Motivasi di balik pemalsuan status hewan penolong sangatlah jelas. Peraturan maskapai penerbangan mempersulit dan mahal untuk bepergian dengan hewan peliharaan di dalam kabin. Anjing kecil harus muat di dalam gendongan di bawah kursi, dan biaya dapat bertambah dengan cepat. Dengan menetapkan hewan peliharaan sebagai hewan penolong, pemilik mengabaikan batasan ini dan terbang secara gratis, seringkali dengan akomodasi yang lebih nyaman.

Seperti yang diungkapkan Jessica Reiss, direktur program di Canine Companions, “Banyak orang mulai memanfaatkan fakta bahwa kami sangat ingin anjing kami bersama kami.” Sentimen ini menyoroti keegoisan mendasar yang menjadi penyebab masalah ini. Bagi sebagian orang, kenyamanannya melebihi implikasi etisnya.

Dampak Nyata Bagi Penyandang Disabilitas

Menjamurnya anjing pemandu palsu bukan hanya gangguan; itu secara aktif merugikan mereka yang bergantung pada hewan bantuan. Molly Carta, seorang wanita penderita Cerebral Palsy yang menggunakan anjing penolong bernama Slate, menggambarkan kekacauan yang ia temui di bandara. “Ada begitu banyak anjing lain di bandara itu sehingga sungguh mimpi buruk untuk berpindah dari gerbang kami ke gerbang berikutnya,” katanya, sambil mencatat bahwa hewan yang tidak terlatih mengalihkan perhatian dan mengganggu kemampuan Slate untuk membantunya.

Carta juga mengkhawatirkan pengaturan tempat duduk, karena maskapai penerbangan memprioritaskan hewan pemandu sebagai tempat duduk sekat, sehingga menimbulkan potensi konflik jika terdapat banyak anjing. Kurangnya peraturan yang jelas memaksanya untuk mempertanyakan apakah mendatangkan Slate sepadan dengan stresnya, sebuah keputusan yang tidak boleh diambil oleh siapa pun.

Dilema yang Tak Terpecahkan?

Masalah anjing penolong palsu memperlihatkan paradoks yang sulit. Penegakan hukum yang lebih ketat dapat semakin membatasi aksesibilitas bagi pengguna hewan penolong yang sah, sementara peraturan yang longgar memungkinkan pelecehan terus berlanjut tanpa terkendali. Persoalan mendasarnya bukan hanya soal peraturan; ini tentang perilaku individu. Beberapa orang akan selalu memprioritaskan kenyamanan mereka sendiri di atas kebutuhan orang lain, sehingga membuat peraturan yang sebenarnya sulit untuk dicapai.

Solusinya mungkin terletak pada kombinasi proses verifikasi yang lebih ketat, peningkatan kesadaran masyarakat, dan perubahan budaya menuju penghormatan yang lebih besar terhadap akomodasi aksesibilitas. Namun, hingga hal tersebut terjadi, fenomena anjing pemandu palsu akan tetap menjadi kenyataan yang membuat frustrasi para pelancong dan menjadi tantangan besar bagi mereka yang benar-benar bergantung pada hewan-hewan tersebut.