Ketakutan AI Memicu Volatilitas Wall Street

17

Laporan penelitian terbaru dari Citrini Research telah memicu perdebatan sengit di Wall Street, memperkuat kekhawatiran yang ada mengenai potensi gangguan dari kecerdasan buatan. Laporan tersebut, yang dengan cepat beredar secara online, memberikan gambaran yang jelas: perpindahan pekerjaan yang meluas di kalangan pekerja kerah putih menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan penurunan pasar saham.

Argumen Inti

Laporan Citrini meramalkan masa depan di mana para profesional bergaji tinggi terpaksa melakukan pekerjaan bergaji lebih rendah seperti berbagi tumpangan karena otomatisasi AI. Laporan ini mengutip skenario potensial seperti pekerja teknologi di kota-kota besar yang menghadapi gagal bayar hipotek karena peran mereka menjadi usang. Narasi ini, meskipun spekulatif, mengejutkan investor dan berkontribusi pada penurunan kecil pada S&P 500 pada hari Senin.

Reaksi Pasar dan Skeptisisme

Meskipun sebagian pasar pulih pada hari Selasa, dampak laporan tersebut masih bertahan. Beberapa investor yang bersikap bearish melihatnya sebagai konfirmasi atas kekhawatiran yang sudah lama ada mengenai dampak AI terhadap ekonomi. Namun, pihak lain, termasuk gubernur Federal Reserve, menolak laporan tersebut karena tidak memiliki bukti nyata. Ahli strategi Deutsche Bank Jim Reid menggambarkannya sebagai “getaran tinggi, rendah substansi,” dan mengakui bahwa ketakutan yang tidak berdasar pun dapat mempengaruhi perilaku pasar.

Kekhawatiran yang Mendasari

Viralitas laporan ini mencerminkan kegelisahan yang lebih dalam di kalangan investor. Meskipun ada yang mempertanyakan kecepatan adopsi AI, ada pula yang bergulat dengan kemungkinan bahwa dampaknya bisa jauh lebih radikal dari perkiraan saat ini. Ketidakpastian ini sudah mulai mempengaruhi kinerja pasar: saham-saham perusahaan yang rentan terhadap gangguan AI telah menderita kerugian, sementara sektor-sektor yang sebelumnya terabaikan kini mulai tertarik lagi.

Volatilitas ini menggarisbawahi poin penting: bahkan skenario spekulatif pun dapat memengaruhi sentimen investor dan mengubah prioritas pasar. Perdebatan mengenai dampak sebenarnya dari AI masih belum terselesaikan, dan reaksi Wall Street menunjukkan bahwa ketakutan – baik dibenarkan atau tidak – dapat menjadi kekuatan pasar yang kuat.

Pasar akan terus mengoreksi dirinya sendiri ketika A.I. menjadi lebih umum pada angkatan kerja.